isu golongan? masih jaman?

Beberapa calon ketua BEM datang kepadaku semacam berkonsultasi terkait keinginan dan dorongan dari Imagelingkungannya untuk maju mencalonkan diri menjadi ketua BEM. Aku sendiri kadang terfikir kenapa mereka malah mau datang kepadaku untuk konsultasi itu? Padahal sudah menjadi rahasia umum kalau aku gagal maju menjadi prsiden mahasiswa di tahun 2012. Mungkin mereka nyaman berdiskusi denganku, atau mungkin mereka ingin belajar dari kekalahanku? Entahlah, apapun alasan mereka mendatangiku, aku terima saja. Anggap saja ini bagian kontribusiku di ranah politik kampus sebagai mahasiswa tingkat akhir.

Kali ini aku ingin sedikit berpendapat tentang mereka yang mengusung wacana “golongan”. Wacana tersebut selalu saja muncul dari tahun ke tahun. Tidak sedikit calon-calon ketua BEM Fakultas mengusung wacana BEM dikuasai oleh satu golongan dan dia hadir untuk merangkul semua golongan, beberapa diantaranya berdiskusi denganku. Wacana itu biasanya diperkuat dengan majunya calon lewat jalur independen. Wacana golongan ini sepertinya juga dimainkan sampai tingkat universitas bahwa BEM KM juga dikuasai oleh satu golongan saja.

Pertanyaannya, salahkah golongan itu ada di puncak kepeminpinan? Kurasa tidak. Siapapun tentunya berhak untuk berada di jabatan itu. Kapasitas dan elektabilitas tentunya yang akan menunjukkan kalau dia memang berhak untuk ada di sana. Proses menuju kemenangkan inilah yang akhirnya menentukan siapa yang lebih berkah untuk ada di posisi puncak. Aku selalu berharap sebuah proses yang baik dilakukan semua pihak dalam perjalanan menuju puncak itu. Entah akan seperti apa masa depan politik kita saat dari masih kuliah saja sudah senang berbuat kecurangan dalam politik kampus.

Pernyataan dan pertanyaan tentang golongan kerap bermunculan. Golongan itu punya kepentingan? Lalu kalau yang lain sebagai penggantinya memimpin tidak punya kepentingan? Aku tak akan peduli dengan statemen ini, karena semua orang pasti punya kepentingan. Aku yakin mereka yang menjadi pimpinan itu berfikir untuk memajukan organisasi, membuat semuanya lebih baik. Hanya saja mungkin persepsi kebaikan inilah yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Golongan tersebut tidak mau merangkul yang lainnya dan mengedepankan kepentingan kelompoknya? Lagi-lagi kita berbicara realita politik. Wajar kalau akhirnya yang menang akan mengedepankan jaringan yang dikenalnya. Kita sendiri tentu akan lebih mengandalkan teman-teman dekat kita untuk menyelesaikan sebuah permasalahan. Kalaupun masalah merangkul pihak lain, tentu mereka harus dapat diajak kerja sama dengan baik. Aku yakin setiap golongan yang berkuasa di masanya akan terus berusaha untuk merangkul semua mahasiswa. Namun seringkali ketika satu golongan itu berada dalam struktur organisasi, golongan yang lain merasa segan untuk masuk dan turut serta membantu golongan yang sudah masuk di sana. Nah, sekarang siapa yang mengkotak-kotakkan satu golongan dengan golongan yang lain itu?

Keberadaannya yang tidak dirasakan oleh berbagai pihak kadang juga menjadi serangan untuk golongan yang sedang mengusai struktur BEM atau lembaga lainnya. Pertanyaannya apakah memang lembaga tersebut kurang serius untuk merangkul berbagai elemen untuk bersama-sama menjalankan agenda di ranah kampusnya? Atau jangan-jangan orang yang tidak merasakan keberadaan BEM itu karena faktor ketidak peduliannya terhadap BEM itu sendiri? Semua kemungkinan ada, tapi sekali lagi aku yakin usaha merangkul dari BEM itu ada, hanya besar atau kecil usahanya saja yang beda. Namun seringkali aku menemukan mereka yang senang menghujat itu pada dasarnya tidak peduli dengan ada atau tidaknya BEM.

Kalau memang golongan itu tak ada maksud buruk, lalu kenapa mereka saling bersaing? Aku pikir inilah sebuah konsep berlomba dalam konteks kebaikan atau fastabiqul khoiroot. Saat keadaan yang baik namun tak ada tantangan tentu kita akan selesai dengan zona nyaman itu, maka persaingan itu dibutuhkan. Sama halnya saat kita dulu di SD, SMP atau SMA yang menganut sistem ranking untuk saling berlomba untuk menjadi yang terbaik diantara yang baik. Lagi-lagi sebenarnya kita saling peduli satu dengan yang lainnya. Namun seringkali bentuk kepedulian itu disalah persepsikan atau disalah artikan. Teringat sebuah kata-kata dari salah satu calon presma yang maju di tahun ini, “BEM itu memang milik satu golongan. Golongan yang peduli perubahan ke arah yang lebih baik dan melakukan aksi nyata!” Aku masih berharap semua dari kita bisa saling peduli.

Advertisements

SINERGI GERAKAN INTRA DAN EKSTRA KAMPUS

_MG_5676-crop“Peran mahasiswa adalah sebagai agent of change, social control, dan iron stock!”

Kalimat itu mulai terdengar saat orientasi mahasiswa baru di sesi materi peran mahasiswa. Bahkan di lain pemateri ada yang manambahkan bahwa mahasiswa memiliki peran sebagai moral force. Entah sejak kapan penjelasan tiga peran tersebut didefinisikan, namun pada fakta sejarahnya memang peran mahasiswa berkutat pada hal tersebut. Mahasiswa sebagai kaum intelektual yang mewakili kelas menengah “dipercaya” masyarakat untuk membuat perubahan-perubahan di berbagai sektor.

Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, gerakan mahasiswa seringkali menjadi cikal bakal perjuangan nasional, seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa. Boedi Utomo yang menjadi cikal bakal kebangkitan nasional lahir oleh para pemuda yang dikategorikan sebagai mahsiswa pada tahun 1908. Sumpah pemuda yang dilakukan pada tahun 1928 juga diinisiasi oleh para mahasiswa. Demikian pula dengan berbagai momentum lainnya hingga kemerdekaan, orde lama, dan orde baru tidak lepas dari gerakan para mahasiswa dan pemuda. Gerakan mahasiswa di Indonesia adalah kegiatan kemahasiswaan yang ada di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang dilakukan untuk meningkatkan kecakapan, intelektualitas dan kemampuan kepemimpinan para aktivis yang terlibat di dalamnya.

Momentum yang masih belum lama panas dan masih sering terdengar di telinga kita adalah reformasi. Mahasiswa berhasil menggalang kekuatan massa untuk menekan agar rezim Soeharto mundur dari jabatannya. Momentum reformasi dan berbagai momentum lainnya tentu tidak terjadi hanya dalam waktu yang sangat singkat, namun perjuangan itu telah diinisiasi sejak tahun-tahun sebelumnya. Peran mahasiswa sekarang ini masih menjadi diskusi panjang terkait bagaimana arah gerakan mahasiswa yang seharusnya dapat dijalani.

PR Mahasiswa

Krisis kepemimpinan yang dialami bangsa Indonesia menjadi salah satu PR bagi gerakan mahasiswa untuk segera diselesaikan. Oleh karena itu gerakan mahasiswa dapat menjadi kawah candra dimuka bagi mahasiswa untuk mendidik karakter seorang pemimpin. Gerakan mahasiswa yang terwadahkan dalam sebuah organisasi melatih mahasiswa untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab, jujur, memiliki visi dan ideologi, serta banyak hal baik lainnya yang dapat dilatih.

“Menjadi mahasiswa adalah sebuah tanggungjawab yang dipertaruhkan kepada rakyat dan jati diri mahasiswa (idealisme) itu sendiri”

Posisi mahasiswa dan intelektual nantinya menjadi bagian penting dari perubahan peradaban. Identitas mahasiswa, jika boleh digampangkan adalah jiwa perlawanan dan alternatif, bukan sekedar mengikuti trend atau mainstream yang berlaku di masyarakat pada umumnya. Sebuah identitas yang sebenarnya patut dipertanyakan kepada pemiliknya, apakah jiwa perlawanan, kritis, pemberontakan, kritis terhadap kekuasaan dan kemapanan sudah tumbuh dan menjadi jiwa dan nurani mahasiswa? Jangan-jangan mereka hanya menjadi budak dan mesin-mesin pemikir langgengnya kekuasaan.

Gerakan Ekstra Kampus

Gerakan mahasiswa ekstra kampus merupakan salah satu wadah mahasiswa untuk meningkatkan kecakapan, intelektualitas dan kemampuan kepemimpinan para aktivis yang terlibat di dalamnya. Mahasiswa memiliki peranan penting dalam mengubah sejarah kebangsaan dan perjalanan demokrasi.  Diakui atau tidak bahwa mahasiswa itu memiliki daya tarik tersendiri terkait dengan dunia perpolitikan di tanah air.

Gerakan mahasiswa yang ada di kampus terdikotomi antara gerakan intra dan ekstra kampus. Pembagian antara organisasi intra dan ekstra kampus karena pada realitanya kedua tipe organisasi tersebut memang berbeda, walaupun dalam beberapa hal terdapat kesamaan. Karena yang patut dipersalahkan sebetulnya ialah penyikapan atas perbedaan yang ada.

Perbedaan diantara keduanya terletak pada keterikatan dengan pihak kampus. Berbeda organisasi intra kampus yang begitu terikat dengan birokrat kampus, organisasi ekstra kampus berdiri independen tanpa terikat dengan birokrat kampus. Biasanya, organisasi intra kampus, karena merasa bahwa kampus merupakan ”rumah” mereka, maka sebisa mungkin peluang bagi organisasi ekstra kampus untuk ikut mewarnai dinamika kampus ditutup serapat-rapatnya. Tidak jarang usaha-usaha untuk mendiskreditkan organisasi ekstra kampus pun dilancarkan oleh para empunya kampus tersebut.

Organisasi ekstra kampus yang merasa ruang geraknya dibatasi tidak kehilangan akal untuk masuk ke kampus karena merasa juga menjadi bagian dari kampus. Berbagai macam celah pun dicaoba agar dapat ikut mewarnai dinamika kampus yang sedang berkembang. Kreativitas gerakan ekstra kampus dalam bergerak semakin diuji ketika muncul SK DIRJEN DIKTI Nomor 26/DIKTI/Kep/2002 tentang pelarangan organisasi ekstra kampus atau partai politik dalam kehidupan kampus. SK tersebut berisi bahwa melarang segala bentuk Organisasi Ekstra Kampus dan Partai Politik membuka sekretariat (perwakilan) dan atau melakukan aktivitas politik praktis di dalam kampus.

Kepentingan Politik?

Beberapa kalangan intra kampus yang menolak infiltrasi organisasi ekstra ke dalam kampus mereka karena alasan bahwa organisasi ekstra kampus memiliki kepentingan politik. Pertanyaan yang muncul ialah apakah gerakan mahasiswa, baik intra maupun ekstra kampus, bebas dari kepentingan politik?

Pendapat saya, baik intra maupun ekstra kampus, tidak terbebas dari kepentingan politik. Karena pada dasarnya, menurut Aristoteles, manusia adalah Zoon Politicon, yaitu makhluk yang berpolitik. Hanya saja, gerakan politik yang diusung oleh gerakan mahasiswa bukanlah gerakan politik kekuasaan (Power Political Movement) yang merupakan fungsi dasar partai politik dimana penetapan agenda dan target politik maupun pemilahan lawan dan kawan politik semata-mata sebagai urusan taktis dan strategis untuk memperkuat dan mengukuhkan posisi politiknya dalam percaturan kekuasaan sekarang dan di masa depan. Gerakan politik mahasiswa lebih pada gerakan politik nilai (Values Political Movement). Mahasiswa dituntut untuk memperjuangkan nilai-nilai (Values) atau sistem nilai (Values System) yang sifatnya universal seperti keadilan sosial, kebebasan, kemanusiaan, demokrasi, kepedulian kepada rakyat tertindas.

Menggagas Sinergi Positif

Berangkat dari tuntutan tersebut, maka sudah seharusnya gerakan mahasiswa menghindarkan diri dari jebakan dan manipulasi kepentingan elite maupun partai politik tertentu. Jika gerakan mahasiswa sudah terjebak pada agenda politik kalangan elite tertentu, maka entah kepada siapa lagi rakyat akan berharap jika para pengusung politik nilai saja sudah menggadaikan idealismenya.

Dikotomi yang ada antara organisasi intra dan ekstra kampus, biarlah itu menjadi kondisi obyektif dari gerakan mahasiswa. Jangan sampai dikotomi diantara keduanya dijadikan alasan untuk saling menganggap musuh antara gerakan mahasiswa. Karena yang terjadi saat ini mengarah pada hal tersebut.

Gerakan mahasiswa sekarang berbeda dengan gerakan mahasiswa pada zaman-zaman perjuangan melawan tirani rezim Orba. Mahasiswa, baik yang berasal dari intra maupun ekstra kampus, saling bersinergis melakukan sebuah gerakan bersama untuk melawan setiap tindakan represif yang dilakukan oleh rezim saat itu. Hingga pada puncaknya, gerakan mahasiswa dapat memetik buah manis dari perjuangan yang mereka lakukan dengan ditandai turunnya Soeharto.

Mahasiswa yang mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan di bangku kuliah, dituntut tidak hanya melulu memikirkan hal-hal yang bersifat akademis saja, tetapi juga diharapkan mampu menjadi tempat harapan bagi rakyat tertindas. Untuk itu, perlu kita rapatkan barisan gerakan mahasiswa ini. Jangan posisikan diri kita menjadi tersekat-sekat dalam ruang sempit yang sebetulnya itu hanya akan membinasakan kita sendiri. Baik organisasi intra maupun ekstra kampus sama-sama memiliki peran penting dalam gerakan mahasiswa. Mengapa kita tidak ”mengawinkan” atau menerima keduanya? Kecuali jika kita sebagai mahasiswa justru ingin memperlemah gerakan mahasiswa yang membawa nilai-nilai universal ini, maka wajar jika kita masih saja memposisikan organisasi intra versus organisasi ekstra kampus.

Wallahua’lam bish showab~

SAATNYA SANTRI TURUN TANGAN

Bukan lautan hanya kolam susu .. Katanya

Tapi kata kakekku, hanya orang-orang kaya yang bisa minum susu.

Kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai tiada topan kau temui .. Katanya.

Tapi kata kakekku, ikannya diambil nelayan-nelayan asing.

Ikan dan udang datang menghampirimu .. Katanya.

Tapi kata kakekku, ssstt.. ada udang di balik batu.

Image

Sepenggalan puisi yang dibacakan seorag bocah dalam film karya Deddy Mizwar, Tanah Surga (Katanya)[1], menambah ingatan tentang tanah air yang kita tempati saat ini, Indonesia.  Kekayaan alam, budaya, bahasa, suku, sumberdaya manusia dan masih banyak lainnya merupakan bukti dari kemakmuran negara yang dijuluki zamrud khatulistiwa ini. Belum lagi letak geografis Indonesia yang sangat strategis membuatnya dilalui jalur perdangan internasional. Berbagai hal tentang itu semua telah kita kenal sejak sekolah dasar.

Kekayaan yang sangat melimpah itu nampaknya belum mencukupi semua kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia. Terlihat kemiskinan masih banyak dialami oleh mereka yang berada di pinggiran kota dan pedesaaan. Meskipun data yang disampaikan BPS menyatakan sampai dengan tahun 2011, tingkat kemiskinan nasional telah dapat diturunkan menjadi 12,49 persen dari 13,33 persen pada tahun 2010, namun hal ini tampak menjadi permainan politik orang-orang yang masih ingin mendapatkan jabatan pemerintah di tahun-tahun mendatang. Gambaran kondisi masyarakat dalam film Laskar Pelangi[2], Tanah Surga (Katanya), Alangkah Lucunya Negeri Ini[3], dan film-film lainnya sudah cukup menggambarkan kondisi sosial masyarakat yang benar-benar ada di Negara Indonesia.

Masalah pengangguran pun menjadi bagian dari masalah kemiskinan dengan jumlah pengangguran yang tidak sedikit. BPS (Badan Pusat Statistik) pada tahun 2011 sudah melansir jumlah pengangguran di negeri ini mencapai 8% dari jumlah angkatan kerja. Sekitar 12,8 juta jiwa masyarakat Indonesia menganggur, baik pengagguran terbuka maupun pengangguran paruh waktu. Sedangkan tahun 2012 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) usia muda, 15-29 tahun, di Indonesia mencapai sudah 19,9% atau tertinggi di kawasan Asia Pasifik. Sehingga dapat disimpulkan adanya penambahan jumlah pengangguran dari tahun ke tahun disamping dengan bertambahnya lulusan yang keluar dari berbagai lembaga pendidikan dan pertumbuhan peduduk yang semakin meningkat.

Julukan negara maritim, agraris dan seribu pulau seharusnya menjadikan negeri ini kaya akan berbagai sumber daya alamnya. Darat menjadi sumber hasil pertanian, laut dan perairan lainnya menjadi sumber hasil perikanan. Belum lagi hasil tambang yang dimiliki Indonesia. Hitungan kasar menunjukkan tambang emas Freeport yang telah dibuka dari tahun 1998 telah mengasilkan 7,3 juta ton tembaga dan 724,7 juta ton emas. Hasil tambang tersebut jika diuangkan dapat menjadi 217.410 biliun rupiah[4]. Seharusnya dari tambang emas ini saja kita dapat melunasi hutang Indonesia US$178 miliar di tahun 2009.

Namun, apakah memang kekayaan yang Indonesia miliki itu belum cukup untuk menyejahterakan seluruh masyarakat Indonesia? Sebuah pertanyaan yang perlu dikaji lebih mendalam, kemana dan untuk apa kekayaan itu digunakan? Seharusnya kekayaan itu dapat digunakan untuk mengatasi segala permasalahan bangsa. Pemerintah yang paling bertanggung jawab untuk mengelola semua kekayaan alam untuk dipergunakan demi kepentingan rakyat tampaknya belum dapat memaksimalkan kinerjanya. Anggota DPR pun memiliki banyak catatan hitam, meskipun kita tak dapat memungkiri masih banyak tokoh di DPR sebagaimana Gordon di tengah kekacauan yang terjadi di kota Gotham[5]. Belum lagi kisah para pejabat daerah yang kotor dengan intrik-intrik politiknya, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan yang diinginkan.

Persoalan korupsi tampaknya dapat menjadi salah satu jawaban atas pertanyaan larinya hasil kekayaan yang Indonesia punya. Indonesian Corruption Watch (ICW) mengungkapkan selama tahun 2011 pelaku korupsi banyak yang berlatar belakang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tersangka berlatar belakang pegawai negeri menempati urutan teratas dengan jumlah 239 orang diikuti oleh direktur atau pimpinan perusahaan swasta dengan 190 orang, serta anggota DPR/DPRD dengan jumlah 99 orang.

Masalah korupsi dan berbagai masalah pada banyak sektor stategis bangsa di Indonesia akan bersinggungan dengan karakter kepemimpinan yang dimiliki para pemangku jabatan publik. Seorang pemimpin seharusnya memiliki karakter kejujuran disamping kemampuan memimpin yang baik. Maka sebuah pertanyaan besar terhadap karakter kejujuran para pemimpin kita di saat banyak yang terjebak kasus korupsi. Belum lagi adanya kasus-kasus yang berhubungan dengan moral juga menimpa para pengambil kebijakan. Mulai dari issu pelecehan seksual sampai perselingkuhan tidak jarang terdengar di dalam media pemberitaan[6]. Terlepas dari kebenaran berita tersebut, namun itulah yang kurang lebih terwajahkan pada sosok pimpinan kita.

Ironis rasanya melihat Indonesia yang notabene sebagian besar -bahkan hampir semua- masyarakatnya Muslim tapi para pemimpinnya tidak mencerminkan karakter seorang pemimpin yang islami. Setidaknya hal itu terlihat dari apa yang telah dibahas sebelumnya terkait masalah-masalah kepemimpinan sang pejabat negara.

Solusi Kepemimpinan

Islam mengajarkan kepada kita bahwa seorang pemimpin seharusnya memiliki karakter Islami yang semuanya dicontohkan oleh Rasulullah dan para Sahabat. Karakter Iman dan tauhid menjadi karakter dasar seorang pemimpin yang Islami. Kita akan merindukan hadirnya sosok pemimpin sebagaimana seorang Abu Bakar r.a. yang memiliki akidah yang kokoh dan kuat, memiliki tujuan akhirat pada apa yang dilakukannya, dan senantiasa tawakkal terhadap apa yang telah beliau ikhtiyarkan. Demikian pula dengan sosok Umar r.a. yang senantiasa meneladani apa yang telah diajarkan Rasul kepadanya, selalu merujuk pada syariah Allah SWT, dan tidak menguduskan ijtihad manusia. Atau sosok Utsman r.a. dan Ali r.a. yang senantiasa istiqomah meskipun fitnah banyak menimpa dirinya, tidak melupakan interaksi dengan Al-Quran dan Sunnah, dan berusaha mengikat diri dengan akhirat. Akhlaq para Khulafaaur Rasyidin meneladani sepenuhnya apa yang dicontohkan Rasulullah. Sikap mereka luhur terhadap sesama muslim dan orang-orang yang di luar muslim, bahkan terhadap para musuhnya.

Para Khulafaaur Rasyidin tidak hanya memiliki kapasitas seorang pemimpin secara eksternal saja, tetapi mereka juga berhasil mengiternalisasi nilai-nilai Islam dalam setiap langkah kepemimpinannya. Kepemimpinan mereka tak diragukan lagi karena berhasil mencetak sejarah yang sangat berpengaruh pada perkembangan Islam hingga saat ini. Abu Bakar memulai untuk menghimpun Al-Quran yang nantinya dibukukan pada zaman Utsman bin Affan, Umar bin Khattab yang akhirnya dapat menaklukkan Persia sebagaimana janji Allah lewat Nabi Muhammad SAW, dan Ali bin Abi Thalib yang mulai menerapkan hukum Qishas. Masih banyak prestasi yang mereka torehkan dalam sejarah Islam.

Konsep kepemimpinan Islam seharusnya dapat mengatasi masalah-masalah moral dan taktis dalam dunia pemerintahan. Kehadiran Allah sebagai pengawas abadi dapat membuatnya senantiasa untuk berfikir jernih dalam memutuskan setiap kebijakan. Para khalifah-khalifah terdahulu sudah selesai dengan pertanyaan-pertanyaan terkait aqidahnya sebelum mereka menjadi khalifah, sehingga pelanggaran-pelanggaran hukum pun dapat dikatakan mustahil mereka lakukan karena rasa takut kepada-Nya.

Mencari Sosok Pemimpin

Mencari sosok pemimpin ideal merupakan sebuah PR besar bagi bangsa Indonesia. Kepemimpinan ala Nabi dan para Sahabat yang dapat menjadi solusi atas masalah-masalah kebangsaan perlu ada yang menerjemahkan. Sosok santri mungkin dapat menjadi solusi atas masalah bangsa yang berlarut-larut. Perjalan menimba ilmu agama di Pondok Pesantren dapat menjadi bekal untuk menjalankan roda kepemimpinan di masa mendatang. Pemahaman aqidah yang mendasar seharusnya telah diberikan oleh para kiyainya untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai seorang santri, dimana istilah itu merupakan sebutan bagi sebagai seorang yang pernah mondok di pesantren, dituntut untuk senantiasa survive dimanapun dia berada. Kebutuhan santri dalam aktivitas keseharian senantiasa berkembang pesat, bahkan jauh berubah seiring dengan dunia baru yang dimasukinya. Aktualiasi santri akan bermakna jika mampu merevitalisasi tradisi pesantren yang dilalui sebelumnya dan bukan keluar dari tradisi pesantren. Karena jika keluar dari pesantren maknanya santri akan menjadi sosok yang tidak baik, seperti jarang shalat kalau tidak dibilang malas shalat, jarang puasa, malas jama’ah shalat di masjid, malas mengaji Al-Quran, bahkan tidak puasa, tidak shalat, selalu pacaran.

Kaum santri selama ini harusnya dapat lebih taat memenuhi ajaran agama dan gigih memperjuangkan berlakunya syariah baik secara formal dalam berbagai bentuk perundang-undangan atau pun secara fungsional melalui sosialisasi nilai-nilai moral ke dalam setiap praktik kekuasaan dan kehidupan sosial. Kemampuan aktivis politik dari kaum santri seharusnya melakukan praktik politik yang bukan hanya demokratis, melainkan sekaligus juga bersih, sehat dan bermoral. Namun kesalehan normatif itu memerlukan sejumlah bukti empiris, sehingga meyakinkan publik akan penting dan manfaatnya tujuan ideal politik santri bagi kepentingan orang banyak, melalui praktik politik yang sehat dan bersih tersebut.

Kini saatnya aktivis politik santri itu untuk tampil full-human (hablu min al-naas[7]) sebagai realisasi keyakinan teologisnya dalam mendekati Tuhan (hablu min allah[8]) ketika sistem politik semakin terbuka walaupun seringkali juga membuka maraknya “politik-uang”. Kegiatan politik bagi kaum santri bukanlah sekedar kerja duniawi melainkan sekaligus sebagai ibadah memenuhi perintah-Nya guna memperoleh ridha dari-Nya. Keyakinan itu tentu sudah seharusnya dipahami para aktivis politik dari kaum santri, namun yang amat perlu disadari ialah bagaimana merealisasikan keyakinan itu menjadi sebuah aksi kemanusiaan yang bersih dari cacat moral dan dirasakan manfaatnya oleh rakyat yang memilih tidak terbatas hanya bagi komunitas partainya, tidak terbatas komunitas santri, melainkan bagi sebanyak mungkin warga republik ini.

Praktik politik bermoral ilahi tersebut sekaligus merupakan koreksi terhadap gejala politik sebagai praktik kekuasaan yang kotor secara moral dan culas secara sosial. Seleksi moral ini akan merupakan metodologi atau cara paling kultural agar perjuangan politik berakar teologi memperoleh dukungan politik rakyat kebanyakan sebagai mayoritas pemilih. Dari sini kita bisa membayangkan sebuah kehidupan politik nasional yang menjadi fondasi kemakmuran rakyat dan bangsa yang semakin saleh sebagaimana dicita-citakan Islam.

Karena itu menjadi penting bagi kaum santri untuk bersedia menunda pemenuhan kepentingan sesaat dan kepentingan dirinya sendiri, atau menjadikan pemenuhan kepentingan itu sebagai bagian integral kepentingan ilahiah. Aktivis politik santri harus bisa menjadikan dirinya sebagai wajah Islam dalam dunia politik seperti model Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan indahnya Islam. Aksi dan agenda politik kaum santri harus bisa dibedakan dari kebersihan moralnya dan kepeduliannya kepada kepentingan rakyat banyak, bukan sekedar bagi kepentingan politik golongannya sendiri, terlebih bukan hanya untuk mencari keuntungan ekonomi sang aktivis.

Seluruhnya terpulang kepada para aktivis politik santri untuk bersedia melakukan praktik politik yang bukan sekedar meraih kekuasaan dan bukan sekedar menjadikan kekuasan hanya untuk memenuhi selera materi. Bisa jadi praktik politik santri tidak lebih hanya bentuk hubbuddunya wa karoohiatul maut[9]; mencintai kehidupan dunia secara berlebihan, tetapi takut mati jika hanya takut tidak memperoleh keuntungan ekonomi semata. Hal ini harusnya menjadi evaluasi yang mendalam bagi mereka (para santri) yang berilmu dan memiliki hati nurani. Perlu disadari bahwa Allah akan memihak kaum santri manakala mereka memihak pada kepentingan rakyat banyak (innallaaha fi ‘aunil abdi ma kaanal ‘abdu fi ‘auni akhiihi[10]).

Mencari Inspirasi Dari Sang Ahli

Tidak sedikit kaum santri yang memutuskan untuk berkiprah dalam pentas kepemimpinan (politik) nasional. Pengalaman, prestasi, dan kesalahan mereka seharusnya dapat dijadikan pelajaran untuk dapat diimplementasikan dalam kehidupan yang akan datang. Karena sosok santri menjadi salah satu harapan untuk memecahkan segala macam permaslahan bangsa yang makin parah.

Salah satu tokoh santri yang telah banyak berkiprah di pentas perpolitikan nasional adalah KH. Abdurrahman Wahid. Mantan presiden Indonesia Abdurrahman Wahid, yang kerap dipanggil Gus Dur ini, menjadi orang nomor satu Indonesia dari tahun 1999 sampai 2001. Ia adalah presiden yang terpilih, setelah jatuhnya rezim Soeharto yang sebelumnya telah memerintah selama 32 tahun dan akhirnya lengser pada tahun 1998. Ulama nyentrik ini memangku tahta kekuasaan di Indonesia setelah mengalahkan Megawati Sukarnoputri, yaitu putri dari Presiden Soekarno, pada Oktober 1999.

Mantan presiden yang pernah menjadi santri di Pesantren Krapyak, Pesantren Tegalrejo, dan Pesantren Tambakberas di Jombang memiliki banyak prestasi di masa kepemimpinannya. Ia mendapat penghargaan dari Simon Wiesenthal Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan Hak Asasi Manusia. Wahid mendapat penghargaan tersebut karena menurut mereka ia merupakan salah satu tokoh yang peduli terhadap persoalan HAM yang salahsatunya meredam konflik GAM. Dibalik kotroversi kasus bulogate, berbagai ide segar dan terobosan dilakukan di Bulog dan telah membuat performa Bulog yang sebelumnya rusak menjadi bagus. Agustus 2001 Bulog memiliki triliunan rupiah di kas Bulog yang telah ramping dan lebih transparan.

Tokoh santri lain yang memiliki catatan perjalanan politik yang gemilang adalah Prof. Dr. Muhammad. Amien Rais, MA. yang lebih populer dikenal Amien Rais. Beliau merupakan sosok pemimpin terpercaya di republik ini. Sebelum banyak beraktifitas di berbagai bidang Amien Rais sempat mengikuti pendidikan agama di Pesantren Mamba’ul Ulum. Ia juga pernah menjadi santri di Pesantren Al Islam. Sebagai ilmuwan dan akademisi sekaligus Guru Besar Ilmu Politik di Universitas Gadjah Mada, Amien Rais berperan sebagai dosen dalam beberapa mata kuliah. Selain itu, Amien Rais mengelola Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan (PPSK)[11]. Konsistensi Amien Rais dalam menolak sikap lembek bangsanya terhadap intervensi asing dan budaya koorporatokrasi yang menjagal hak-hak dasar hajat hidup bangsa Indonesia sendiri terekam jelas dalam buah pikirnya pada buku: Selamatkan Indoenesia; Agenda Mendesak Bangsa.

Amien Rais yang juga dikenal sebagai Bapak Reformasi mendapatkan jabatan sebagai Ketua MPR RI di tahun 1999. Dalam posisi paling atas lembaga tertinggi negara itu, Amien Rais menjadi king maker regulasi demokrasi nasional. Bahkan dengan kepiawaian dan kecerdasan politiknya, Amien Rais menggulirkan gagasan Poros Tengah untuk membangun jalan baru dari dua titik ekstrim dalam kubu politik yang cenderung berlaku zero some game sebab tersandung kebekuan hubungan politik, sampai kemudian berhasil mencalonkan, mengawal dan sekaligus mengantarkan Abdurrahman Wahid ke tampuk kursi Presiden ke-4 RI.

Satu lagi tokoh santri yang pernah berkiprah di pentas perpolitikan Indonesia, yaitu DR. H. M. Hidayat Nur Wahid, MA. Ia politisi, ustadz dan cendekiawan yang bergaya lembut serta mengedepankan moral dan dakwah. Sosoknya semakin dikenal masyarakat luas setelah ia menjabat Presiden Partai Keadilan (PK), kemudian menjadi Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Partai ini memperoleh suara signifikan dalam Pemilu 2004 yang mengantarkannya menjadi Ketua MPR 2004-2009. Hidayat Nur Wahid menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat setelah mengalahkan Sucipto dengan selisih hanya dua suara dalam pemilihan yang berlangsung secara demokratis dalam Sidang Paripurna V MPR tanggal 6 Oktober 2004. Setelah memimpin MPR itulah nama Hidayat Nur Wahid dikenal luas sebagai tokoh yang sederhana dan sebagai ikon anti KKN.

Santri lulusan Pondok Pesantren Walisongo Ponorogo dan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo ini juga memiliki berbagai prestasi dalam kepemimpinannya. Sebuah keyaninan yang kuat dimilikinya tentang politik, jika sejak awal dasarnya bukan ditujukan semata-mata untuk meraih kekuasaan, tetapi untuk mengartikulasikan gagasan melayani umat, dan mengartikulasikan organisasi sebagai sarana penyebaran dakwah, tentu dengan mudah konflik bisa dihindari.

Sebuah Tantangan

Beberapa tokoh santri yang sudah malang melintang di dunia politik atau kepemimpinan nasional telah menunjukkan kontribusinya. Kemampuan santri pun masih dapat dibandingkan dengan mereka yang tidak berlatar belakang sebagai seorang santri. Bahkan pengetahuan tentang agama dan kedekatannya kepada sang Raja segala Raja dapat dinilai sebuah sisi keungggulan bagi seorang santri yang menjadi seorang pemimpin. Namun tampaknya masyarakat masih belum percaya sepenuhnya kepada santri-santri untuk dapat memimpin.

Masih terekam dalam memori kita bagaimana sampai akhirnya seorang Gus Dur dilengserkan dari jabatan Presiden karena berbagai kebijakan kontrofersial yang dikeluarkan. Atau Amien Rais yang namanya malah meredup setelah jabatan ketua MPR dan Hidayat Nur Wahid yang gagal dalam bursa pencalonan DKI-1. Kekuatan politik Gus Dur, Amien Rais dan Hidayat Nur Wahid tampaknya belum mampu mengalahkan konspirasi politik dari orang-orang yang tidak menyukai Indonesia semakin berkembang menjadi negara maju. Oleh karena itu butuh sebuah konsolidasi besar-besaran antar para santri dan ulama Islam untuk dapat membangun bangsa Indonesia. Kemenangan Masyumi pada tahun 1955 dapat menjadi pecutan semangat bahwa umat Islam di Indonesia seharusnya dapat bersatu untuk turut serta membenahi permaslahan bangsa.

Kiprah santri dalam bidang politik tentu akan membuat warna berbeda di tengah kelamnya pentas politik nasional. Seharusnya para santri dapat membawa cahaya penerang untuk mengatasi berbagai masalah yang semakin menumpuk. Idealisme seorang santri pun harus tetap dibawa hingga akhirnya ajal datang menjelang. Al-Quran dan Sunnah juga menjadi landasan utama dalam berpolitik, melaksanakan perintah-Nya untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar[12].

Kampus: Kawah Candradimuka Jilid II

Dunia kampus merupakan dunia yang serba bebas dan, demokratis. hal inilah yang dapat menjadikan mahasiswa santri lebih nyaman dalam mengaktualisasikan dirinya ketimbang di ranah pesantren yang cukup banyak “memasung” kreativias. Di era sekarang pesantren sudah banyak berubah dan ada yang mengembangkan kreativitas terentu, namun di ranah politik tidaklah terlalu dahsyat. Hal ini disebabkan etos kerja santri layaknya seekor bebek yang senantiasa ikut majikannya, santri tidak jauh beda dengan kyainya, sang pemimpin pesantren. Berbeda sedikit  dengan  sang kyai, acapkali santri dihukum dan bahkan lebih dari itu bisa dimakzulkan.

Santri mahasiswa memiliki kelebihan dibanding mahasiswa lain yang bukan santri. Perbedaan dimaksud adalah adanya gembelangan yang baik di bidang etika, nilai-nilai keagamaan  dan pelajaran kehidupan dalam masyarakat pesantren di mana ia berada.

Santri yang menjadi mahasiswa nantinya akan dapat memberikan warna baru dalam perpolitikan. Nilai-nilai ketuhanan (rabbaniyah) dan sosial kemasyarakatan dapat diaktualisasikan dalam menata kehidupan. Seiring dengan semangat kebersamaan dan keteuladanan bersama, maka kehidupan politik akan menjadi suatu yang baik. Hal ini hanya tinggal menunggu waktu untuk dibuktikan oleh para santri yang telah memiliki kapasitas dan kesadaran untuk berkontribusi lebih banyak.

Saatnya santri turun tangan!


[1] Tanah Surga… Katanya adalah film drama Indonesia yang akan dirilis pada 15 Agustus 2012. Film ini disutradarai oleh Herwin Novianto. Deddy Mizwar merupakan Produser Film.

[2] Laskar Pelangi (2008) adalah sebuah film garapan sutradara Riri Riza yang dirilis pada 26 September 2008 pada saat libur Lebaran. Film Laskar Pelangi merupakan karya adaptasi dari buku Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata.

[3] Alangkah Lucunya (Negeri Ini) merupakan film drama komedi satire Indonesia yang dirilis pada 15 April 2010 yang disutradarai oleh Deddy Mizwar. Film ini dibintangi antara lain oleh Reza Rahadian dan Deddy Mizwar.

[4] 217.410 biliun = 217.410.000.000.000.000.000

[5] Tokoh pahlawan manusia biasa dalam film Batman yang berjuang demi keadilan mengatasi berbagai kejahatan dengan pasukan polisi yang dipimpinnya.

[6] Kita dapat melihat berita tersebut di berbagai infotaiment

[7] Hubungan sesama manusia, hubungan kerjasama atau pergaulan dan sosialisasi yang dilakukan dengan sesama manusia

[8] Hubungan dengan Allah, kedekatan kepada Allah dengan ibadah ritual dan kerohanian

[9] Cinta dunia dan takut mati

[10] Sesungguhnya Allah akan membantu hamba-Nya selama dia membantu saudaranya

[11] lembaga yang konsen dalam kegiatan pengkajian dan penelitian sebagai bentuk keprihatinan atas terbatasnya produk kebijakan menyangkut masalah-masalah strategis yang berorientasi pada penguatan pilar-pilar kehidupan masyarakat

[12] Berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran

referensi

Ath-Thahthawi, Ahmad Abdul ‘Aal. 2009. The Great Leaders: Kisah Khulafaur Rasyidin. Jakarta: Gema Insani.

As Suwaidan, DR. Thariq M. dan Basyarahil, Faisal Umar. 2005. Sukses Menjadi Pemimpin Islami. Jakarta: Maghfirah Pustaka.

Barton, Greg. 2003. Biografi Gus Dur, The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid. Jakarta: LKis.

Kusuma, Yoga. 2007. Pemikiran Politik Hidayat Nur Wahid: Penerapan Syariat Islam dalam Negar Demokrasi. Makalah Individu Mata Kuliah Pemikiran Politik Indonesia. Universitas Indonesia.

Mulkhan, Abdul Munir. 2004. Politik Bagi Rakyat Politik Bermoral Ilahi. Suara Muhammadiyah Edisi 1.

Muzakki, Akh. M.Ag. 2004. Mengupas Pemikiran dan Politik Amien Rais, Sang Pahlawan Revolusi. Jakarta: PT. Lentera Basritama.

MEMPERJUANGKAN NASIB KAUM BURUH, MENJALANKAN PERINTAH ALLAH DAN RASUL-NYA

demo“Mengapa kamu tiada mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, perempuan-perempuan, dan kanak-kanak yang semuanya berdoa: “Yaa Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri yang zalim penduduknya dan berilah kami perlindungan dari sisiMu, dan berilah kami penolong dari sisiMu”” (An-Nisa:75)

Belakangan kita sering mendengar maraknya pemberitaan demo oleh para buruh di berbagai daerah Indonesia. Jakarta yang telah mereda dengan suksesnya perjuangan buruh dalam menaikkan Upah Minimum Kerja (UMK) ternyata membuat pergerakan buruh di tempat yang lain menjadi lebih bergejolak. Tuntutan di daerah yang lain pun tidak mau kalah dengan menyamakan UMK yang berhasil dituntut buruh-buruh Jakarta.

Entah disadari atau tidak, ternyata perjuangan kaum buruh sudah ada sejak zaman para nabi. Nabi-nabi ikut serta bahkan menjadi pilar utama dalam memperjuangkan kaum buruh sebagai salah satu perwakilan kaum yang tertindas. Pun demikian dalam Al-Quran juga terdapat berbagai ayat yang terbesit di dalamnya tentang perjuangan kaum yang tertindas, termasuk buruh didalamnya.

“Janganlah sebagian kamu memakan harta orang lain dengan yang batil (tiada hak) dan (jangan) kamu bawa kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta orang dengan berdosa, sedang kamu mengetahuinya” (Al-Baqarah: 188)

Ketika membangun Kota Madinah, Nabi Muhammad adalah seorang ahli manajemen perburuhan yang unggul. Beliau bisa mengelola kompleksitas kaum buruh atau budak yang plural di zaman itu, yang datang dari kalangan beragam seperti kaum Baduy, Quraish, Yahudi, dan Kristen. Upah juga menjadi concern utama bagi Muhammad terhadap kaum buruh. Beliau sangat menghargai setiap tetes keringat kaum buruh. Ia selalu memperhatikan hak-hak kaum buruh. Bahkan para pelayan Nabi sekalipun, diperlakukan berdasarkan azas kekeluargaan.

Dalam sebuah hadits, beliau menyatakan, “bayarlah upah karyawan (buruh) sebelum kering keringatnya”. Hal itu menyiratkan, bahwa kebutuhan buruh itu sama seperti manusia lainnya. Sehingga bersegeralah menyelesaikan pembayaran upah mereka tanpa harus mencari alasan menunda-nundanya. Jika saja asas kekeluargaan sebagaimana juga tercantum dalam pasal Undang-Undang Dasar kita, diterapkan berdasarkan standar kekeluargaan Rasulullah, niscaya tidak ada perdebatan Upah Minimum antara para buruh dan kalangan pengusaha.

Selama ini kaum buruh selalu ditempatkan pada posisi yang sangat dirugikan. Mereka hanya menerima setiap keputusan yang telah ditetapkan oleh atasan dimana mereka bekerja. Suara mereka tidak pernah didengar, keinginan untuk hidup layak seolah tabuh buat mereka. Penindasan terhadap kaum buruh telah berlangsung cukup lama. Sejak munculnya sistem kapitalisme yang awalnya dianggap solusi perekonomian bukannyamemberikan jalan keluar bagi selesainya eksploitasi kaum buruh, tetapi menjadi nutrisi bagi maraknya eksploitasi kaum buruh. Penindasan terhadap kaum buruh ini tidak hanya terjadi di beberapa negara saja, tetapi bentuk penindasan terhadap kaum buruh terjadi di hampir semua negara.

Kapitalisme telah menjadi musuh Islam sejak zaman sebelum Nabi Muhammad diutus. Zaman Nabi Syu’aib kapitalisme telah menjamur sehingga merusak keseimbangan perekonomian pada zaman itu.

“Dan kami telah mengutus kepada Madyan, Sudara mereka Syu’aib. Ia berkata: ‘wahai kaum ku, sembahlah Allah tidak ada bagi kami satu Tuhan pun selain-Nya. Telah datang kepadamu bukti dari Tuhan kamu; maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan jangan kamu kurangi bagi manusia barang-barang mereka dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah perbaikannya. Yang demikian itu lebih baik bagi kamu jika kamu orang mukmin.” (Al-A’raaf: 85)

Takaran dan timbangan adalah istilah yang mengacu pada perbuatan serta alat produksi. Hingga kini sistem perdagangan melandaskan pada kaidah ini. Takaran buah dari perbuatan dagang yang secara harfiyah digunakan untuk melakukan transaksi. Sedangkan timbangan menjadi wujud alat produksi yang selalu dijadikan alat dalam perdagangan. Hubungan diantara keduanya sangat bergantung pada pelaku-pelaku ekonominya. Pada titik ini Nabi Syu’aib menyampaikan kritik untuk menumbuhkan kesadaran akan ancaman atas keadilan. Kisah perjuangan Nabi Syu’aib masih berlangsung hingga zaman sekarang.

Pada masa-masa dakwah Nabi Muhammad SAW, beliau sangat memperhatikan kualitas keterampilan buruh, disamping perhatiannya terhadap nasib dan upah buruh. Beliau juga menghargai sikap moral dan mental kaum buruh ketika itu. Beliau sangat menghargai sikap loyal dan sifat jujur, tekun, pantang menyerah. Kekurangan kaum buruh ketika itu adalah masalah pendidikan dan pelatihan. Beliau menyeimbangkannya dengan pesan moral berdasarkan keagamaan.

Lain halnya dengan kondisi sekarang dimana banyak perusahaan yang mencetak manusia mental pekerja. Minimnya ilmu pengetahuan yang dimiliki akan membuat pekerja atau buruh perusahaan “manut” kepada segala keputusan atasan tanpa banyak tanya. Kalaupun akhirnya diadakan beasiswa untuk menyekolahkan karyawannya di perguruan tinggi, banyak hal disyaratkan untuk mematikan karakter lulusan universitas tersebut. Harapannya sang sarjana hanya menjadi pekerja yang tak perlu kritis terhadap kebijakan perusahaan.

Membangun basis pengetahuan seharusnya dapat juga dilakukan oleh para buruh. Pemilik modal yang menyediakan lapangan pekerjaan untuk buruh seharusnya memperhatikan masalah pendidikan untuk kaum buruh. Pendidikan tidak hanya disempitkan pada kemampuan melaksanakan tugasnya sebagai pekerja, tapi juga pada bagaimana dia dapat mengembangkan diri. Dalam Quran, dijelaskan bahwa orang-orang yang berilmu akan diangkat derajatnya di sisi Allah. Dengan memiliki kedalaman ilmu, maka harkat dan martabat kemanusiaannya pun akan bisa tegak dan sulit ditaklukkan oleh penindas.

“….. Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat …..” (Al-Mujadilah: 11)

Nabi Muhammad SAW menyusun langkah strategis untuk mengatasi masalah ketimpangan sosial dan perburuhan didalamnya. Pertama, mewajibkan umat Islam untuk membayar zakat. Dengan zakat inilah Nabi memutus kuasa kaum modal, sehingga orang kaya mau membagikan rizkinya kepada yang miskin. Kedua, mengharamkan riba. Nabi sangat mengecam para pengedar riba, karena riba ini akan menjadi batu loncatan dalam mencekik kaum miskin yang kekuarangan modal untuk usaha. Riba merupakan manifetasi penindasan yang sangat kentara, terlebih ditengah lilitan krisis multidimensional.

Ketiga, mengharamkan monopoli dan menimbun harta. Praktek monopoli dan menimbun harta adalah bagian dari upaya mengekang sumber daya alam untuk disebarkan kepada publik. Dengan monopoli dan menumbun harta, kaum kaya biasanya dengan seenaknya menentukan harga. Siapa yang tercekik, pastilah kaum miskin yang merengek-rengek di pinggir jalan kepada kaum kaya yang berderet-deret mobilnya. Dan keempat, membudayakan infak dan shadaqoh. Bahkan Al-Quran melihat bahwa orang akan mendapatkan kebaikan yang hakiki kalau orang itu mau menginfakkan sesuatu yang paling dicintainya.

Impian kesejahteraan, kesetaraan sosial, dan kemaslahatan bersama akan terealisasi dengan hadirnya jiwa-jiwa revolusioner. Usaha yang optimal perlu dijalankan terlebih dahulu sebelum keharmonisan tercapai. Revolusi ataupun reformasi terhadap birokrasi yang menyengsarakan banyak orang hanya dapat dijalankan dengan usaha yang dimulai dari kita sebagai rakyat. Pun dengan perjuangan kaum buruh yang harus turut serta menyertakan dirinya dalam perubahan yang diinginkan.

“Sesungguhnya Allah tiada mengubah keadaan suatu kaum, kecuali jika mereka mengubah keadaan diri mereka”. (Al Ra’du: 11)

PANGAN JAYA, INDONESIA (PUN) JAYA

“Pangan merupakan soal mati-hidupnya suatu bangsa; apabila kebutuhan pangan rakyat tidak dipenuhi maka “malapetaka”; oleh karena itu perlu usaha secara besar-besaran, radikal, dan revolusioner (Ir. Soekarno)”

Pernyataan dalam pidato Presiden pertama Indonesia saat peletakan batu pertama Fakultas Pertanian IPB diatas berbicara tentang pangan yang dianggapnya sebagai persoalan soal mati-hidupnya suatu bangsa. Tampaknya menjadikan pangan sebagai persoalan hidup-mati suatu bangsa bukanlah hal yang berlebihan. Kenyataannya ketiadaaan pangan yang mengakibatkan bencana kelaparan sudah mewabah ke berbagai Negara di penjuru belahan dunia.

Image

Kelaparan sebagai indikasi tindasan terhadap hak atas pangan masih berlangsung di mana-mana bahkan bertambah buruk saja. Sebagai contoh India adalah negeri dengan jumlah penderita kelaparan tertinggi didunia, disusul oleh China. 60% dari total penderita kelaparan di seluruh dunia berada di Asia dan Pasifik, diikuti oleh negeri-negeri Sub-Sahara dan Afrika sebesar 24%, serta Amerika Latin dan Karibia 6%. Setiap tahun orang yang menderita kelaparan bertambah 5,4 juta. Juga setiap tahunnya 36 juta rakyat mati karena kelaparan dan gizi buruk, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Indonesia sangat diakui oleh dunia sebagai negara yang sangat kaya akan sumber daya alamnya. Bangsa yang terbentang dari Sabang sampai Merauke ini memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah.

Bukan lautan tapi kolam susu // kail dan jala cukup menghidupmu // Tiada badai tiada topan kau temui // Ikan dan udang menghampiri dirimu // Orang bilang tanah kita tanah surga // Tongkat kayu dan batu jadi tanaman // Orang bilang tanah kita tanah surga // Tongkah kayu dan batu jadi tanaman

Sampai sekarang akan terus terngiang sebuah lagu lama yang memiliki makna yang sangat mendalam dan masuk ke dalam hati ini. Karena memang pada kenyataannya Indonesia sampai hari ini masih kaya akan kekayaan alamnya. Laut yang melimpah akan berbagai biota di dalamnya dan tanah yang subur dengan berbagai tanaman dapat hidup diatasnya. Salah satu bukti hasil kekayaan itu dapat kita saksikan dengan berbagai pembangunan yang dilaksanakan pemerintah. Uang 20 Milyar buakan hal yang sulit dikeluarkan untuk merenovasi ruangan-ruangan yang ada di gedung DPR. Namun di sisi yang lain entah kenapa hanya untuk memperbaiki infrasturktur daerah masih sangat sulit.

Berabad-abad yang lalu, penjajah datang ke negera kita dengan salah satu alasan yang cukup jelas, Indonesia adalah negara yang kaya dan bisa dijadikan sebagai lumbung harta bagi mereka. Anggapan ini jelas bukan tanpa alasan. Bayangkan saja, kalau negara ini tidak kaya raya, maka, mungkin saat ini kita tidak memiliki apa-apa. Berabad-abad negeri ini mengalami penjajahan, namun sampai saat ini kekayaan alam kita masih cukup melimpah. Disana sini masih sering kita temukan sumber-sumber kekayaan alam.

Namun, pertanyaan yang muncul adalah kenapa masih banyak rakyat yang miskin? Pertanyaan yang selalu kita ajukan, meski pemerintah sudah mengklaim bahwa kemiskinan di negara ini sudah menurun. Saking seringnya diajukan, sampai-sampai kita pun tidak memerlukan jawabannya lagi, karena sudah cukup jelas, penikmatnya hanya sekelompok orang saja. Sekelompok orang yang memiliki modal, dan sekelompok orang yang memiliki kekuasaan. Sementara itu, rakyat hanya disuguhi tontonan kemewahan. Ketika kita membaca koran, majalah, atau menonton TV parade kemewahan sekelompok orang itu menjadi pemandangan biasa dan lumrah. Dibanyak tempat, rakyat kecil harus berjungkir balik untuk bisa hidup. Jangankan untuk memperbaiki rumah, untuk makan saja, mereka harus membanting tulang.

Begitu banyaknya kekayaan Indonesia hingga masalah yang dimilkinya juga bagian dari kekayaan tersebut. Begitu juga dengan pangan bangsa kita yang naik turun sejak zaman Indonesia merdeka. Swasembada pangan yang dulu sempat membuat Indonesia semakin dikenal di dunia tampaknya tidak menjadi solusi jangka panjang menuju kesejahteraan seluruh rakyat di negeri ini.

Pangan menurut undang-undang no. 7 tahun 1996 merupakan salah satu kebutuhuan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat manusia yang berkualitas untuk melaksanakan pembangunan nasional. Pangan merupakan kebutuhan dasar dari manusia yang harus dipenuhi disamping kebutuhan sandang dan papan.

Indonesia menurut Badan Pusat Statistik hingga tahun 2010 memiliki jumlah penduduk yang mencapai angka 237 juta jiwa. Jumlah tersebut tentunya akan terus bertambah diakibatkan laju pertumbuhan penduduk yang mencapai angka 1,49 persen per tahunnya. Sayangnya pertumbuhan penduduk yang terus meningkat tidak diimbangi laju petumbuhan bahan makanan. Hingga bukan hal yang mustahil suatu saat nanti akan terjadi krisis pangan dan kelaparan di banyak tempat di Indonesia.

Kebijakan pembangunan pangan Indonesia, sebagaimana hampir seluruh negara di dunia, mengikuti konsep ketahanan pangan (food insecurity). Hal ini tercermin dari kebijakan yang telah diterbitkan, salah satunya dalam UU No. 7 tahun 1996 tentang Pangan. Dalam UU tersebut, ideologi ketahanan pangan mewarnai hampir seluruh isi undang-undang. Hal yang terus disinggung dalam UU tersebut adalah aspek pemenuhan dan kecukupan bahan pangan bagi masyarakat. UU tersebut tidak mempersoalkan bagaimana bahan pangan itu didapat dan dengan cara apa, termasuk impor besar-besaran sekalipun. Hal ini menjadikan Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat tinggi pada produk-produk pangan impor. Menurut data FAO (2006) Indonesia termasuk negara tertinggi kedua yang mengimpor berbagai pangan ke negaranya setelah Mesir.

Memang benar, tidak ada yang salah dengan aktivitas impor. Apalagi jika usaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut benar-benar sudah dilakukan secara maksimal. Hanya saja, jika aktivitas impor bahan pangan seperti ini terus menerus dilakukan, bukan tidak mungkin suatu saat nanti bangsa Indonesia akan nyaman untuk menjadi negara importir tanpa ada usaha untuk melakukan evaluasi dan improvisasi produksi pangan dalam negeri.

Dengan segala potensi alamnya yang melimpah ruah, pemenuhan kebutuhan pokok seperti halnya pangan semestinya dilakukan secara mandiri oleh pemerintah. Karena pemenuhan kebutuhan pokok merupakan salah satu standar kemandirian suatu bangsa. Kalau pemenuhan kebutuhan pokok saja kita belum bisa mandiri, besar kemungkinan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan lain yang bersifat sekunder seperti halnya sarana transportasi, teknologi, dan semacamnya pun kita masih belum mandiri.

Permasalahan pangan tidak berhenti pada pengelolaan sumber daya alam, pelaku utama yang mengadakan pangan itu sendiri juga bermasalah. Bisa jadi, petani merupakan salah satu profesi paling dihindari oleh anak muda masa kini. Entah karena jumlah pendapatan mereka yang tidak terlalu tinggi, atau entah karena petani selalu dianalogikan dengan kaum marginal atau semacamnya. Pada kenyataannya sebagian besar petani yang ada saat ini adalah mereka yang putus sekolah dan tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Minat untuk menjadi petani di kalangan anak muda sangat rendah sekali. Padahal seperti halnya bidang yang lain, pertanian juga butuh regenerasi agar tidak mati.

Dan faktanya, di level perguruan tinggi, jurusan pertanian merupakan salah satu jurusan sepi peminat. Sepertinya, kalaupun bisa memilih, bisa jadi para lulusan SMA atau sederajat tidak banyak yang mau memilih jurusan pertanian sebagai tempat melanjutkan pendidikan. Dan mungkin hal ini jugalah yang menyebabkan para sarjana pertanian enggan untuk berkarier di dunia pertanian. Karena sejak awal mereka masuk hanya karena terpaksa atau karena tidak bisa masuk di jurusan impian mereka, bukan karena benar-benar berminat untuk mendalami ilmu pertanian dan berkaya di bidang pertanian.

Ironisnya Soekarno pernah menyatakan “Daftarkanlah dirimu nanti menjadi mahasiswa fakultet pertanian dan fakultet kedokteran hewan! Jadilah pahlawan pembangunan! Jadikanlah bangsamu ini bangsa yang kuat, bangsa yang merdeka dalam arti merdeka yang sebenar-benarnya! Buat apa kita Bicara tentang “politik bebas” kalau kita tidak bebas dalam urusan beras, yaitu selalu harus minta tolong beli beras dari bangsa-bangsa tetangga?” tampaknya hari ini apa yang dikatakan Bapak Proklamator itu makin mendekati kenyataan atau bahkan sudah benar-benar kita saksikan di negara yang kita cintai ini. Kita tidak bebas dalam urusan beras! Salah satu faktor juga karena generasi muda yang tidak lagi ingin mengembangkan dunia pertanian Indonesia. Sangat disayangankan memang. Padahal tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap kemampuan menerapkan teknologi dan juga kemampuan untuk berinovasi. Yang keduanya sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi pertanian.

Disisi lain Organisasi petani sering menjadi alat politisasi. Petani lebih sering menjadi obyek politik. Bahkan, banyak sekali politisi yang mendadak jadi petani, tujuannya untuk memanfaatkan petani sebagai obyek suara ketimbang subyek suara. Salah satu alasan yang membuat politisi mendadak jadi petani disebabkan mayoritas penduduk Indonesia adalah petani. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan petani Indonesia 44% dari total jumlah penduduk, sehingga potensinya dianggap besar untuk meraup dukungan pada setiap Pemilu.

Berbicara tentang pembangunan pertanian, dalam kurun waktu 2005–2008, produksi beberapa komoditas pangan kita memang mengalami peningkatan yang signifikan (RPJMN, 2009). Akan tetapi, keadaan seperti ini tidak bisa dijadikan jaminan bahwa kita akan aman-aman saja dengan ancaman krisis pangan, kelaparan dan kekurangan gizi. Ancaman krisis pagan, kelaparan dan kekurangan gizi pada bayi dan balita telah menjadi persoalan yang sampai saat ini belum bisa terselesaikan oleh negara. Beberapa waktu lalu kita dikagetkan dengan ditemukannya satu desa dimana penduduknya menderita ‘cacat mental’. Belum lagi kasus-kasus lain, seperti gizi buruk dan busung lapar yang melanda beberapa daerah di Indonesia.

Negara kita berada dalam status rawan pangan bukan karena tidak adanya pangan, akan tetapi lebih disebabkan pada pemenuhan pangannya bergantung pada pihak lain. Meskipun dari aspek pemenuhan kebutuhan masyarakat tidak terlalu bermasalah, akan tetapi dalam jangka panjang tentu akan sangat mebahayakan kelangsungan hidup ratusan juta rakyat Indonesia. Saat terjadi perubahan pola-pola produksi-distribusi-konsumsi di tingkat internasional, maka secara otomatis kita pun langsung terkena dampaknya. Komoditas pangan yang sangat vital bagi rakyat yang masih tergantung pada pasar internasional diantaranya: beras, kedelai, jagung, gula, singkong dan minyak goreng (SPI, 2008).

Puncak retorika yang dilakukan penguasa dalam soal pembaruan agraria wujudnya  adalah mengajukan RUU Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk  kepentingan Umum  pada Desember 2010 yang kemudian disahkan DPR. UU No.12 Tahun 2012 ini lahir untuk menikam UUPA yang lebih pro rakyat. Lahirnya UU pengadaan tanah sangat kontradiktif dan bertolak belakang dengan semangat UUPA karena begitu mengakomodir kepentingan pemilik modal. Lolosnya UU pengadaan tanah bukti serius kesadaran dan kemauan elit politik yang masih lemah untuk menjalankan amanat UUPA.

Kemauan dan kesadaran elit baru sebatas penerbitan UUPA. Sedang implementasinya, tidak berjalan lancar. Bisa dibayangkan sudah 52 tahun dan 6 kali ganti presiden implementasi UUPA masih tetap jalan ditempat.Hal lain yang membuat mandeg adalah daya tawar politik dari petani Indonesia sangat rendah. Petani cenderung diposisikan warga kelas dua. Tanpa pernah mendapatkan perhatian serius Hal ini mengakibatkan posisi petani lemah dan hanya menjadi komoditas politik para elit penguasa saja. Ketidakberdayaan petani jelas terlihat dalam pengadaan pupuk misalnya, petani tidak diberi ruang untuk ikut berpartisifasi menekan laju harga pupuk dan tidak bisa ikut menentukan harga gabah saat panen tiba. Demikian pula dengan kepemilikan lahan yang hanya di bawah 0,5 hektar membuat petani hanya menjadi petani yang sekedar bertani untuk mempertahankan hidup memenuhi kebutuhannya sendiri.

Berbicara tentang kondisi pangan ideal dan solusi untuk berbagai permasalahan pangan yang ada tampaknya sudah menjadi pembahasan sehari-hari di berbagai kalangan. Mahasiswa, petani, LSM dan termasuk pemerintahan itu sendiri juga memiliki solusi untuk kemajuan bangsa yang kita cintai ini. Mulai dari diversifikasi, kebijakan impor, pemberdayaan petani, perbaikan infrastruktur, dan masih banyak lagi solusi dari berbagai permaslahan yang ada. Namun semuanya menjadi omong kosong saat tak ada realisasi. Reforma Agraria yang diwacanakan Bapak Presiden yang terhormat akhirnya menjadi janji yang entah akan direalisasikan kapan. Pemilik-pemilik modal masih dianggap terlalu kuat untuk dilawan oleh pemerintah, akhirnya rakyat kecil yang jadi korban. Bahkan UUPA yang telah dibentuk sejak 52 tahun yang lalu pun tampaknya hanya diperuntukkan untuk mengahbiskan dana rapat saja karena tak ada realisasi. Sederhananya kita butuh pemerintahan yang benar-benar berpihak pada rakyatnya yang banyak. Bukan hanya perhatian pada segelintir orang yang dapat memuluskan karir politiknya.

Pada akhirnya pemerintah dapat disamakan dengan para penjajah yang dahulu pernah membuat sengsara masyarakat di Negeri yang kaya ini. Perbedaan pemerintah sekarang dan para penjajah zaman dahulu mungkin ada mungkin juga tidak. Kalaupun ada, mungkin hanya pada status kewarganegaraanya dan cara menjajahnya. Jika dulu penjajah menggunakan cara-cara kekerasan menggunakan senjata ala romusha dan kerja rodi, penjajahan ala pejabat sedikit lebih halus, yaitu dengan kewajiban membayar pajak, meski imbasnya sama, harus jungkir balik mencari uang.

Rakyat diwajibkan membayar pajak tiap tahunnya. Iklannya pun bikin ciut nyali. Namun, siapa berani menjamin bahwa pajak-pajak itu akan kembali kepada rakyat untuk kesejahteraan mereka? Wujud paling nyata dari pajak-pajak yang dibayarkan adalah megah dan mewahnya fasilitas pejabat kita. Sementara untuk fasilitas-fasilitas yang berhubungan dengan kepentingan rakyat kondisinya masih cukup memprihatinkan. Bahkan tak jarang, fasilitas rakyat ini bisa sewaktu-waktu mengancam nyawa rakyat.

Harapan akan birokrat yang dapat benar-benar membuat masyarakatnya sejahtera adalah impian seluruh rakyat Indonesia. Meskipun banyak kali rakyat dibohongi, tetapi dukungan akan terus diberikan kepada mereka yang berjanji. Dukungan merupakan satu bukti bahwa rakyat ini tak akan lelah berharap pada sosok “ratu adil” yang akan segera datang. Namun berharap dan terus menanti harapan menjadi kenyataan bukanlah jalan bagi seorang pemuda yang visioner. Maka perubahan itu harus kita mulai dari sekarang meskipun itu hanya sebuah hal kecil. Mulai membenahi diri dari kapasitas keilmuan dan karakter seorang negarawan sejati. Karena generasi muda hari ini adalah harapan bangsa di masa yang akan datang.

MEMULAI KEBANGKITAN DARI PERBAIKAN PRIBADI

ImageKebangkitan adalah kata penuh makna. Setidaknya, kebangkitan mengandung tiga makna. Pertama, kebangkitan adalah perubahan. Perubahan ke arah positif, dan perubahan untuk menjadi yang lebih baik serta unggul. Kedua, kebangkitan adalah perjuangan. Perjuangan untuk melawan kedzoliman, perjuangan untuk memperebutkan hak, dan perjuangan untuk kesejahteraan. Terakhir, kebangkitan adalah keberanian. Keberanian untuk menjadi diri sendiri, keberanian untuk menantang rasa takut, dan keberanian untuk menanamkan sebuah prinsip.

Kebangkitan umat islam mempunyai fase naik dan turun. Pertukarannya merupakan sebuah keniscayaan. Diutusnya para Rasul, pada hakikatnya adalah gerakan-gerakan kebangkitan. Setiap terjadi keterpurukan pada ummat manusia, Alloh mengirim rasul-rasul Nya. Para rasul melakukan perjuangan yang terorganisir, sestematis dan berstrategi sampai berhasil menghimpun pengikut dan menyelamatkan manusia ke jalan Allah. Kisah kerasulan yang paling akhir adalah diutusnya Rasulullah Muhammad saw pada Kaum Kafir Quraisy. Ketika itu, Kaum Kafir Quraisy sedang berada di zaman Jahiliyah atau zaman kebodohan. Butuh waktu 23 tahun setelah islam lahir, hingga akhirnya islam mengalami kejayaan. Setelah Rasulullah saw wafat, tampuk kepemimpinan islam berpindah ke para sahabat. Dimulai dari Abu Bakar As-Sidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan hingga Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib tidak bisa membendung konflik yang terlanjur meluas ke negara-negara kekuasaan islam. Hingga akhirnya, periode kepemimpinan sahabat pun berakhir, digantikan dengan masa Kekhalifahan.

Kekhalifahan yang pertama adalah kekhalifahan Bani Umayyah. Dibawah kekuasaan Bani Umayyah, kekhalifahan Islam berkembang dengan pesat. Di arah barat, umat Muslim menguasai daerah di Afrika Utara sampai ke Spanyol. Pada akhir kekuasaannya, pendukung Bani Hasyim dan pendukung Ali bersatu untuk meruntuhkan kekuasaan Umayyah pada tahun 750.  Setelah itu, kekhalifahan berpindah ke tangan Bani Abbasiyah. Bani Abbasiyah berhasil memegang kekuasaan kekhalifahan selama tiga abad, mengkonsolidasikan kembali kepemimpinan gaya Islam dan menyuburkan ilmu pengetahuan dan pengembangan budaya Timur Tengah. Kemudian, berdiri pula khilafah Turki Utsmaniyah. Akan tetapi, tepatnya pada tanggal 23 Maret 1924, Kekhalifahan Turki Usmaniyah runtuh. Keruntuhan ini terjadi akibat adanya perseteruan di antara kaum nasionalis dan agamais dalam masalah kemunduran ekonomi Turki. Dan keruntuhan ini juga dijadikan symbol runtuhnya kejayaan Islam. Hingga kini, kebangkitan umat islam menjadi hal yang didambakan oleh seluruh umat islam. Persatuan umat islam, adalah hal pokok sebelum terwujudnya kebangkitan umat islam itu sendiri. Akan tetapi yang kita lihat, umat islam masih mengkotak-kotakkan diri baik dalam batas teritorial ataupun dalam batas golongan masing-masing.

Ketika kita menilik Indonesia,  kebangkitan bukanlah hal instan dan mudah didapat. Ia merupakan rentetan panjang perjuangan rakyat Indonesia. Kebangkitan nasional adalah masa dimana bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, yang sebelumnya tidak pernah muncul selama penjajahan Belanda dan Jepang. Masa ini ditandai dengan beberapa peristiwa penting yaitu berdirinya Boedi Oetomo. Boedi Oetomo adalah sebuah organisasi pemuda yang didirikan oleh Dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) pada tanggal 20 Mei 1908. Digagaskan oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo. Berdirinya Budi Utomo menjadi awal gerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia walaupun pada saat itu organisasi ini awalnya hanya ditujukan bagi golongan berpendidikan Jawa. Hingga kemudian, tanggal berdirinya Boedi Oetomo diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Setelah berdirinya Boedi Oetomo, semangat perjuangan rakyat Indonesia semakin meluas. Hal ini dilihat dari banyak berdirinya gerakan pemuda yang bersifat kedaerahan yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb.

Lama-kelamaan, semangat persatuan mulai muncul dari dalam diri pemuda-pemuda itu. Sumpah Pemuda yang merupakan bentuk pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928. Hingga akhirnya rentetan perjuangan dengan gelimpangan perngorbanan yang tak terhitung berujung pada tercapainya kemerdekaan. Pada tanggal 17 Agustus 1945 kita sampai pada satu titik bahwa “wilayah kami tidak lagi terjajah”, yang kita kenal sebagai Hari Kemerdekaan Indonesia. Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah, apakah makna kebangkitan Indonesia hanya berakhir pada batas “terbebasnya wilayah”?

Salah satu pilar kebangkitan dalam kehidupan adalah sebuah faktor pribadi-pribadi yang tangguh. Seseorang yang memiliki kepribadian tangguh berarti dia dapat memaksimalkan segala potensi yang ada dalam dirinya. Manusia diciptakan oleh Allah S.W.T dengan tiga potensi dasar yang harus diseimbangkan agar dapt menjadi orang yang produktif. Tiga potensi tersebut adalah akal, jasad dan ruh.

Wahyu yang pertama kali turun kepada Rasulullah adalah bukti bahwa Allah sangat menganjurkan untuk memaksimalkan potensi akal kita. “Iqra’. Bacalah”. Perintah ini berarti akan ada ilmu yang kita dapatkan lewat apa yang kit abaca tersebut. Maka jelaslah firman Allah di surat Al-Mujadillah ayat 11, Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Ketika ilmu itu dapat berkembang dengan baik, maka akan muncul hikmah (sikap bijak) yang akan membawa perubahan sesuai dengan pemahaman yang benar. Namun demikian banyak orang pintar yang menyalahgunakan kecerdasannya untuk sesuatu yang tidak baik. Karenanya butuh kekayaan ruhiyah atau yang juga kita kenal dengan kecerdasan spiritual.

Makanan ruh adalah dzikrullah, mengingat Allah. Karenahanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang(Q. S. Ar-Rad: 28). Lapar akan kebutuhan ruhiyah mungkin tak dapat dirasakan secara fisik, namun di saat hati gelisah karena berbagai urusan dunia, maka itulah sebuah tanda ruh kita sedang butuh makan. Manusia yang memiliki kekayaan ruhiyah maka tidak akan terburu-buru menentukan sikap atau mengambil keputusan terhadap suatu permasalahan. Mereka akan ingat dengan tanggung jawab yang harus dipertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT. Setiap perbuatan yang dilakukan manusia di muka bumi akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah ketika di Akhirat kelak.

Banyak orang yang cerdas dan memiliki kapasitas tinggi, namun tidak dapat memaksimalkan kecerdasan atau kapasitasnya tersebut karena keterbatasan fisik yang juga dimilikinya. Karena itulah kebutuhan fisik juga harus diperhatikan agar terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan, terutama penyakit. Allah memerintahkan kita untuk memakan makanan yang halal dan baik agar fisik kita dapat terjaga. Demikian pula dengan olah fisik yang perlu dilakukan seorang muslim, karena rasul memerintahkan untuk mengajarkan anak-anak kita memanah, berenang, dan berkuda sebagai bentuk olah fisik dan terbentuknya generasi unggul yang memiliki fisik yang kuat. Rasul mencontohkan bagaimana kekuatan fisik seorang muslim dengan bertarung dengan orang Arab Badui yang lebih besar badannya dari beliau dan kemudian beliau dapat memenangkan pertarungan tersebut.

Allah menjelaskan tentang sebuah generasi yang diridhoi-Nya dengan disebut sebagai generasi Ulil Albab. Mereka adalah generasi yang mau berfikir akan semua kebesaran Allah yang telah diciptakan di muka bumi, langit dan bumi yang diciptakannya berlapis-lapis, pergantian siang dan malam, serta segala ciptaan yang lainnya termasuk berbagai fenomena sosial yang terjadi di bumi-Nya. Sehingga potensi akal yang mereka miliki dapat teroptimalkan dengan baik. Tidak cukup dengan potensi akal yang dimilikinya, generasi Ulil Albab adalah generasi yang selalu mengingat Allah baik dalam keadaan berdiri, duduk, maupun dalam pembaringan. Sehingga potensi ruhiyah mereka pun juga teroptimalkan dengan dzikir yang senantiasa mereka lakukan. Keseimbangan antara potensi-petensi tersebut akan melahirkan pribadi yang tangguh dan akan menciptakan kebangkitan yang merupakan sebuah wujud perubahan baru menuju kebaikan bersama.

Berbicara tentang runtuhnya kejayaan islam sejak 88 tahun yang lalu dan hingga kini belum terlihat tanda-tanda akan bangkit lagi, ataupun Indonesia yang telah 104 tahun “bangkit”, tetap masih banyak permasalahan yang belum terselesaikan, mungkinkah karena kita melupakan pilar utama kebangkitan tersebut? Alloh SWT telah menetapkan kita sebagai ummat terbaik. Generasi terbaik yang pernah ada sepanjang sejarah manusia. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”(Q. S. Ali Imran: 110). Firman Allah Swt adalah kepastian. Ketetapan-Nya tidak pernah tidak tepat, pasti akan terjadi! Maka bangkitlah! Karena kita adalah ummat terbaik.

22 tahun gw ada di dunia~

Enam tahun pertama setelah gw lahir gw banyak mengahbiskan waktu di Saudi Arabia, Riyadh tepatnya. Yaa, masa kecil gw cukup indah dengan punya pengalaman hidup di negeri orang yang dapat dikatakan makmur. Ditambah lagi minimal satu tahun sekali menghadap ka’bah. Meskipun saat itu gw belum dewasa tapi setidaknya banyak pengaruh yang sekarang terasa di kehidupan gw. Setelah balik ke Indonesia gw lanjutin kelas 2 SD di depok dan kemudian SMP dan SMA mondok di sebuah desa terpencil daerah anyer. Lanjut sekarang kuliah di Jogja, kota nyaman yang penuh dengan beraneka budaya kehidupan. Itulah gambaran sedikit tentang kehidupan gw yang akhirnya membuat gw sekarang seperti ini.

22 tahun gw ada di dunia, apa yang gw sudah lakukan kepada orang-orang yang ada di sekitar gw?

22 tahun gw ada di dunia, kontribusi apa yang sudah gw lakukan untuk membuat sebuah perbaikan?

22 tahun gw ada di dunia, apa yang sudah gw persiapkan untuk masa depan gw di dunia?

22 tahun gw ada di dunia, sudah siap mati besok atau sekarang juga?

Pertanyaan terakhir adalah yang paling membuat gw spicles. Yaa, jawabannya adalah belum. Banyak kekurangan, kesalahan, kelemahan, dan sejenisnya yang membuat diri ini merasa belum layak untuk masuk ke dalam syurga-Nya. Tampaknya akan sangat sia-sia kalau di dunia kita sukses luar biasa tapi nanti ketika di akhirat kita sengsara. Gw percaya akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, yang abadi setelah kehidupan dunia. Maka pertanyaan selanjutnya adalah sudahkah gw melakukan segala pekerjaan dunia untuk akherat gw? -,-

Sebuah perenungan, gw harus bisa lebih baik lagi. Doa baik yang terucap di hari itu gw harap di dengar oleh yang maha kuasa dan gw diberikan kekuatan untuk menghapai segala tantangan dan cobaan dunia ini..

Yaa Rabbi, bimbinglah hamba~